LAYOUT FASILITAS
Layout fasilitas harus dirancang untuk memungkinkan perpindahan yang ekonomis dari orang–orang dan bahan–bahan dalam berbagai proses dan operasi perusahaan. Jarak angkut hendaknya sependek mungkin dan pengambilan serta peletakan produk–produk dan peralatan–peralatan diminimumkan. Hal ini seharusnya menghasilkan minimasi biaya penanganan dan transportasi, seperti juga pnurunan waktu proses kerja dan mesin mengaggur. Penentuan letak–letak produksi dalam pabrik erat hubungannya dengan pendirian bangunan pabrik (building). Seiring layout ditentukan terlebih dulu sedang bangunan menyesuaikannya. Bangunan yang sudah didirikan ini akan mahal bila diubah, ini berarti harus diusahakan sefleksibel mungkin, karena kemungkinan besar perusahaan harus melakukan “relayaout” dengan adanya perubahan permintaan, penemuan produk baru, proses produksi baru, perubahan metode kerja, fasilitas–fasilitas produksi yang “out of date”, kecelakaan–kecelakaan dalam proses produksi, lingkungan kerja yang terlalu pengab, dan sebagainya.
Secara lebih terperinci, layout fasilitas bertujuan untuk menggunakan ruangan yang tersedia seefektif mungkin. Meminimumkan biaya penanganan bahan dan jarak angkut, menciptakan kesinambungan dalam proses produksi menyederhanakan proses produksi, mendorong semangat dan efektifitas kerja para karyawan, menjaga keselamatan karyawan dan barang–barang yang sedang diproses, serta mengihndari berbagai bentuk pemborosan.
BERBAGAI POLA LAYOUT
Ada 4 (empat) pola dasar umum layout
Pertama, “layout fungsional” yang berkenaan dengan pengelompokan mesin-mesin dan peralatan-peralatan sejenis pada suatu tempat (pusat) yang melaksanakan fungsi-fungsi yang sama.
Kedua, “layout produk” berkenaan dengan pengelompokan mesin-mesin dan peralatan-peralatan yang diperlukan untuk membuat produk-produk tertentu berdasarkan atas urutan proses produksi, dimana produk-produk bergerak secara terus-menerus sebagai dalam suatu garis perakitan. Layout produk berorientasi pada produk yang sedang dibuat untuk mencapai volume produksi yang tinggi.
Ketiga, “layout kelompok” kadang-kadang dioerlukan sebagai macam layout yang terpisah, merupakan suatu variasi darri layout produk. Dalam layout kelompok, bagian-bagian dan komponen-komponen produk yang sedang dibuat dikelompokkan menjadi macam keluarga dan berbagai area atau departemen dipisah-pisahkan untuk mengerjakan hanya komponen-komponen tersebut dan melakukan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk membuatnya selesai.
Keempat, “layout posisi tetap” menempatkan produk-produk kompleks yang sedang dirakit pada suatu tempat, seperti pembuatan pesawat boeing 747, kapal dan sebagainya kebanyakan perusahaan menggunakan secara kentara satu atau lebih pola-pola layout ini, tetapi mungkin juga mencakup semua macam layout pada berbagai derajat.
METODA-METODA LAYOUT
Perusahaan-perusahaan yang membangun bebagai fasilitas baru sering menghabiskan dua atau tiga tahun dalam pekerjaan pendahuluan, dimana salah satu bagian penting adalah pencarian metoda-metoda yang lebih baik untuk digunakan dalam pabrik baru. Pembangunan suatu pabrik baru memberikan kesempatan untuk membuat tercapainya perbaikan-perbaikan. Dengan layout baru adalah mungkin untuk menghilangkan praktek-praktek pemborosan, sebagai contoh, dalam pabrik sekarang, dua orang mengoperasikan sebuah truk padahal seorang saja sudah cukup, pengurangan karyawan mungkin akan menimbulkan keberatan-keberatan. Tetapi dengan pabrik baru disuatu lokasi yang berbeda, ban berjalan yang tidak memerlukan karyawan sama sekali dapat diterapkan. Jadi penghapusan masalah dan perbaikan metoda.
Cara pertama untuk mulai suatu analisa layout adalah mulai dengan diagram perakitan (bagan proses) yang menunjukkan bagaimana proses produksi dari bahan mentah sampai produk akhir dilaksanakan. Kemudian, buat daftar kebutuhan operasi untuk membuat komponen-komponen, didapatkan dari departemen teknik. Daftar ini menunjukkan urutan-urutan atau “routing” kebutuhan mesin-mesin untuk memproduksi suatu komponen atau produk. Bila layout berorientasi pada produk, daftar tersebut akan memberikan pola untuk penetapan tempat-tempat kerja operator sepanjang garis perakitan dan untuk penempatan mesin-mesin.
Cara kedua penentuan suatu layout baru adalah dengan memperhatikan produk dari sudut pandang penanganan bahan (materials handling). Apakah produk besar dan padat atau besar dan ringan? Bagaimana tentang bentuknya? Apakah panjang atau tipis, atau lentur, atau mudah ditumpuk? Bagaimana tentang risiko kerusakannya? Apakah mudah patah atau rusak, atau berbahaya dan sukar dibungkus, atau tahan terhadap karat? Apakah mengandung minyak dan lemak atau apakah produk kering dan bersih?
LAYOUT DALAM ORGANISASI JASA
Bank, restaurant, rumah sakit dan kantor-kantir juga menghadapi banyak masalah layout yang sama seperti pada perusahaan-perusahaan manufacturing. Bagi hamper seluruh bagian, metoda-metoda layout yang sama dapat digunakan. Di samping aliran beban di antara departemen-departemen, analisis harus mempertimbangkan pergerakan (perpindahan) karyawan yang membutuhkan bekerja bertatap muka (face to face) dengan karyawan lain, dan pergerakan kertas kerja. Sebagai contoh dalam kasusu di restaurant, perpindahan bahan mentah (sebelum dimasak) menuju tempat-tempat pemrosesan (lemari es, kompor, oven, dan lain-lain), dan pergerakan produk akhir (masakan) ke langganan.
KESEIMBANGAN LINI
Perencanaan dan penyusunan layout harus memperhatikan masalah keseimbangan lini. Masalah keseimbangan aliran proses produksi ini berarti adanya keseimbangan atau persamaan kapasitas atau keluaran dari setiap tahap operasi daalam suatu runtutan lini. Bila terjadi keseimbangan antara kapasitas suatu tahap operasi berikutnya, maka proses produksi dapat diharapkan akan berjalan lancar. Bila keseimbangan tidak dijaga, keluaran maksimum yang mungkin dicapai untuk lini tersebut akan ditentukan oleh operasi yang paling lambat. Ketidak keseimbangan lini akan mengakibatkan penumpukan barang-barang dalam proses pada suatu bagian operasi, dan dilain pihak pengangguaran bagian-bagian operasi lainnya.
Model antrian dalam keseimbangan lini. Model-model antrian atau garis tunggu dapat digunakan sebagai pendekatan untuk memecahkan masalah keseimbangan lini. Masalah penting model ini adalah menyeimbangkan tahap-tahap operasi agar masing-masing tahap mempunyai volume pekerjaan yang sama. Walaupun model antrian memberikan pengertian yang berguna tentang pengaturan suatu runtutan lini operasi, tetapi dalam praktek tidak merupakan pendekatan yang berhasil sebagai alat bantu manajemen untuk memecahkan masalah keseimbangan lini.
Saya H1
Saya H2
Saya H3
Saya H4
Saya H5
Saya H6
<script type='text/javascript'>
//<![CDATA[
$('.aab_sidebar-wrapper .widget-content').hide();
$('.aab_sidebar-wrapper h2:last').addClass('headactive').next().show();
$('.aab_sidebar-wrapper h2').click(function(){
if($(this).next().is(':hidden') ) {
$('.aab_sidebar-wrapper h2').removeClass('headactive').next().slideUp(900, "easeInOutExpo");
$(this).toggleClass('headactive').next().slideDown(600, "easeInOutExpo");
}
return false;
});
//]]>
</script>
Cari
</style> atau
</body>
save template. :) :D
Contoh Blocquote yang saya gunakan pada blog ini, lorep ipsum sit diam lo, awas ya jangan sampai aku diam karena aku tidak bisa diam kalau kamu tidak diam, apa kamu tahu arti kata diam??