PENGERTIAN PIPC
Walaupun kegiatan-kegiatan PIPC berbeda dalam setiap situasi, ada paling tidak fungsi-fungsi tertentu yang umum. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan para spesialis PIPC pada umumnya dapat diperinci sebagai berikut:
1.
Berpartisipasi dalam penyusunan skedul-skedul produksi induk yang realistic atas dasar kapasitas yang tersedia. Melaporkan ke departemen pemasaran tentang hari penyelesaian bagi pesanan-pesanan langganan.
2.
Berpartisipasi dalam perencanaan kebutuhan tenaga kerja untuk memenuhi skedul produksi induk.
3.
Menerima pesanan-pesanan untuk memproduksi produk-produk.
4.
Menguraikan pesanan-pesanan bagi produk-produk yang di rakit dari bills of material, atau berarti menentukan kuantitas, komponen-komponen dan operasi-operasi yang di butuhkan memberi daftar permintaan kepada departemen pembelian untuk komponen-komponen yang akan dibeli.
5.
Menentukan kebutuhan-kebutuhan bahan mentah untuk komponen-komponen yang diproduksi.
6.
Menentukan peralatan-peralatan yang diperlukan untuk produksi. Memberikan daftar permintaan untuk peralatan-peralatan yang akan dibeli atau dibuat secara internal.
7.
Mengoperasikan gudang persediaan bahan mentah dan mengelola persediaan serta menyusun laporan-laporan penerimaan dan pemakaian bahan secara akurat. Memberikan daftar permintaan pembelian untuk bahan-bahan yang diperlukan.
8.
Menentukan produk yang dibuat pertama kali, operasi-operasi dan mesin-mesin yang diperlukan untuk membuat produk-produk dan komponen-komponen.
9.
Mempersiapkan perintah-perintah produksi yang mengarahkan pelaksanaan operasi-operasi.
10.
Menyusun skedul-skedul untuk pelaksanaan operasi-operasi pada mesin-mesin tertentu.
Fungsi-fungsi dasar ini biasanya ditugaskan kepada departemen PIPC dalam hamper semua perusahaan, tetapi kadang-kadang beberapa fungsi diantaranya ditugaskan kepada departemen lain. Sebaliknya juga, satu atau lebih tugas-tugas non-PIPC, seperti pengoperasian pelayanan administrasi pabrik atau gudang penyimpanan peralatan, atau penetapan standar-standar waktu untuk maksud-maksud pemberian intensif, sering dilimpahkan kepada departemen pengawasan produksi.
PIPC juga sedikit berhubungan dengan penyediaan fasilitas yang diperlukan untuk produksi. Dalam perusahaan, segala sesuatu yang berhun=Bungan dengan pengoperasian produksi pertama kali untuk suatu produk baru diserahkan kepada teknisi produk yang mempunyai wewenang akhir tentang bagaimana barang-barang dibuat. Teknisi produk dapat memilih mesin-mesin, memberikan perintah pembelian, menentukan layout, mengawasi pemasangan mesin, dan memonitor operasi-operasi sampai produksi berjalan lancar. Teknisi produk mungkin juga membuat keputusan tentang semua peralatan yang di butuhkan dan memesannya, serta memutuskan bahan-bahan yang digunakan, tetapi PIPC yang melakukan pesanan-pesanan bahan, setelah produk terintegrasi dengan proses produksi, PIPC mengambil alih kegiatan operasi selanjutnya.
PERENCANAAN AGGREGAT DAN SCHEDULING INDUK
Kegiatan perencanaan produksi dimulai dengan melakukan peramalan-peramalan (forecasts) untuk mengetahui terlebih dahulu apa dan berapa yang perlu diproduksikan pada waktu yang akan datang. Peramalan produksi bermaksud untuk memperkirakan permintaan akan barang atau jasa-jasa perusahaan. Tetapi hamper semua perusahaan tidak dapat selalu menyesuaikan tingkat produksi mereka dengan perubahan permintaan nyata. Oleh karena itu, perusahaan mngembangkan rencana-rencana rasional yang menunjukkan bagaimana mereka akan memberikan tanggapan terhadap pasar. Ini merupakan tugas perencanaan agregat dan scheduling induk (master scheduling).
Walaupun scheduling induk tergantung pada tipe permintaan (forecasting versus pesanan) dan horizon perencanaan, beberapa pedoman scheduling perlu diperhatikann. Hal-hal pokok yang perlu diperhatikan dalam scheduling induk adalah :
1.
Scheduling induk dikerjakan atas dasar rencana produksi agregat.
2.
Menyusun skedul dengan modul-modul umum bila mungkin.
3.
Melakukan pembebanan pada fasilitas-fasilitas secara realistik.
4.
Menyampaikan order-order atas dasar satuan waktu.
5.
Memonitor tingkat persediaan dengan cermat.
6.
Melakukan scheduling sesuai keperluan.
Disamping itu, menyusun skedul induk juga harus mengintegrasikan informasi permintaan dan persediaan ke dalam perencanaan atau proses scheduling induk. Proses ini secara umum mengikuti langkah-langkah sebagai berikut.
1.
Menggabungkan kebutuhan-kebutuhan produk kotor per periode.
2.
Menentukan kebutuhan-kebutuhan produk bersih (yaitu, kebutuhan kotor dikurangi ppersediaan).
3.
Membagi kumpulan-kumpulan kebutuhan produk bersih ke dalam order-order yang direncanakan menurut tahapan waktu skedul.
4.
Mengubah order-order yang direncanakan menjadi laporan-laporan pembebanan pada pusat-pusat kerja kunci.
5.
Merevisi order-order yang direncanakan untuk memenuhi prioritas dan menyesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan kapasitas.
SCHEDULING TERPERINCI
Setelah kapasitas dipadankan dengan skedul produksi induk, scheduling yang diperinci menurut komponen-komponen, rakitan-rakitan, dan komponen-komponen yang dibeli dapat ditentukan. Scheduling ini mencakup routing mesin, hari penyelesaian pesanan, dan prioritas-prioritas lainnya.
Sebelah skedul produksi induk, yang dijabarkan dan dipadankan dengan tersedianya sumber daya (material) dan kemampuan kapasitas dalam system perencanaan kebutuhan bahan dan perencanaan kebutuhan kapasitas, menetapkan produk-produk (atau komponen-komponen) apa yang akan diproduksi, dalam kuantitas berapa, dan kapan produk-produk tersebut diperlukan, kita menyiapkan dan menyusun scheduling terperinci, scheduling ini mencakup daftar semua komponen yang diperlukan untuk membuat suatu produk (termuat dalam bill of materials), routing operasi-operasi (disusun dalam master route sheet), hari penyelesaian order, pelimpahan wewenang pengerjaan dan prioritas-prioritas lainnya. Scheduling terperinci menunjukkan bagaimana, kapan, dan dimana produk-produk harus dibuat.
Jadi, scheduling terperinci menyembatani jarak antara rencana-rencana material dan kapasitas produk-produk akhir.
DISPATCHING
Dispatching berarti pengeluaran perintah-perintah pengerjaan (work orders) secara nyata kepada para karyawan. Pemberian perintah pengerjaan merupakan realisasi produksi untuk menghasilkan suatu produk. Secara normal, dispatching menimbulkan beberapa masalah. Masalah pertama terjadi bila beban kerja pusat-pusat kerja melebihi kapasitasnya, sehingga perlu dikembangkan sistem prioritas order untuk memilih order-order pengerjaan pada proses produksi berikut. Pada umumnya, hari penyelesaian yang terera dalam order tidak akan menjawab pertanyaan ini karena departemen kelebihan beban. Oleh karena itu, kita penting menetapkan suatu pedoman untuk pembuatan keputusan tentang order-order mana yang seharusnya dikerjakan terlebih dahulu dan mana yang akan di tunda. Pedoman seperti itu hendaknya cukup mekanistik sehingga penyedia computer atau operator mesin dapat membuat pilihan-pilihan. Adakah tidak mungkin untuk menggunakan pedoman-pedoman yang sepenuhnya tergantung pada kebijakan atau pendapat manusia bila pilihan-pilihan harus dibuat di antara ratusan dan ribuan order. Pedoman penentuan pilihan order ini disebut priority dispatch rules.
Para peneliti telah mempelajari masalah cra penentuan prioritas dan telah menggunakan simulasi untuk menetapkan pedoman dispatching prioritas terbaik. Beberapa pedoman yang dapat digunakan adalah :
1.
FCFS (first come, first served) yaitu pekerjaan yang datang pertama kali pada pusat kerja, diproses pertama kali.
2.
SPT (shortest processing time), yang berarti bahwa pekerjaan berikut dipilih atas dasar waktu pemrosesan tercepat atau tependek.
3.
LPT (longest processing time), yang berarti bahwa pekerjaan berikut dipilih atas dasar waktu pemrosesan terpanjang atau terlama.
4.
EDD (earliest due date), di mana dengan pedoman ini, pekerjaan dengan tanggal penyelesaian paling dini (awal) diproses pertama kali.
5.
LS (least slack). “waktu longgar” didefinisikan sebagai waktu tersisa sampai tanggal penyelesaian dikurangi waktu pemrosesan. Pekerjaan dengan waktu longgar paling kecil atau nol diproses terlebih dahulu.
Di samping pedoman-pedoman yang sering digunakan di atas, pemilihan pekerjaan yang akan diproses berikut dapat didasarkan atas nilai rupiah tertinggi untuk meminimumkan biaya penyimpanan barang dalam proses, atau dipilih pekerjaan dengan operasi-operasi yang tersisa paling banyak atau paling sedikit, atau atas dasar apakah pekerjaan melalui pusat kerja yang kelebihan beban, dan lain-lain yang ditetapkan secara khusus oleh perusahaan.
FOLLOW UP
Follow up merupakan kegiatan pengawasan produksi untuk memonitor dan mengecek secara terus menerus proses pengerjaan order-order produksi maupun pembelian komponen-komponen dari pihak luar perusahaan, apakah berjalan sesuai dengan yang telah ditetapkan dalam skedul produksi induk. Follow up, sebagai bagian terakhir fungsi PIPC, bertujuan untuk menentukan efektivitas mengintegrasikan fungsi-fungsi PIPC yang mendahuluinya, serta memberikan umpan balik dan menetapkan tindakan-tindakan korektif bagi sistem. Dengan melaksanakan fungsi follow up, kita dapat mengetahui kemajuan proses pengerjaan suatu order atau pesanan, kelebihan kapasitas yang belum digunakan dan tingkat penggunakan dan persediaan material.